Vaksin HPV terbukti mampu menekan risiko kematian akibat kanker serviks hingga mendekati nol. Temuan tersebut berasal dari penelitian jangka panjang yang menilai efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi virus penyebab kanker serviks. Penelitian itu memperkuat manfaat imunisasi sejak usia remaja.
Human papillomavirus atau HPV merupakan penyebab utama sebagian besar kasus kanker serviks. Virus tersebut menyebar melalui kontak kulit dan hubungan seksual. Tidak semua infeksi berkembang menjadi kanker. Namun, infeksi yang menetap dapat memicu perubahan sel pada leher rahim.
Penelitian menunjukkan vaksin HPV memberikan perlindungan sangat tinggi terhadap tipe HPV berisiko tinggi. Efektivitas terbaik diperoleh ketika vaksin diberikan sebelum seseorang terpapar virus. Karena itu, banyak negara merekomendasikan imunisasi pada anak perempuan dan laki-laki berusia 9 hingga 14 tahun.
Selain vaksinasi, para ahli menekankan pentingnya skrining kanker serviks secara rutin. Pemeriksaan seperti tes HPV atau Pap smear membantu mendeteksi perubahan sel sejak dini. Penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Pemerintah Indonesia terus memperluas program vaksinasi HPV sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker serviks. Para ahli berharap cakupan imunisasi yang lebih luas dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut dalam beberapa dekade mendatang.
