PORTAL RESMI – Sains Kenapa Antartika Membeku 30 Juta Tahun Lebih Cepat dari Kutub Utara?

Kenapa Antartika Membeku 30 Juta Tahun Lebih Cepat dari Kutub Utara?

Antartika mulai tertutup lapisan es permanen sekitar 34 juta tahun lalu. Sementara itu, Kutub Utara baru mengalami pembekuan besar sekitar 25 hingga 30 juta tahun kemudian. Selama bertahun-tahun, perbedaan waktu tersebut menjadi teka-teki bagi para ilmuwan. Penelitian terbaru menunjukkan penyebabnya bukan hanya penurunan kadar karbon dioksida, tetapi juga proses geologi yang terjadi jauh di bawah permukaan Bumi.

Para peneliti menemukan bahwa pecahnya superbenua Gondwana memicu pergerakan material panas di mantel Bumi. Proses tersebut secara perlahan mengangkat Pegunungan Gamburtsev di Antartika Timur hingga mencapai ketinggian yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun. Saat suhu global mulai turun, kawasan pegunungan itu menjadi titik awal terbentuknya gletser yang kemudian berkembang menjadi lapisan es raksasa.

Lapisan es yang terus meluas menciptakan efek umpan balik alami. Permukaan es memantulkan lebih banyak sinar Matahari dibandingkan batuan, sehingga suhu semakin rendah. Udara yang lebih dingin juga mengandung lebih sedikit uap air, yang merupakan gas rumah kaca alami. Kombinasi kedua proses tersebut mempercepat pembentukan lapisan es di Antartika. Sebaliknya, wilayah Arktik didominasi lautan dan tidak memiliki dataran tinggi yang cukup untuk memulai proses serupa.

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa Antartika membeku jauh lebih cepat dibandingkan Kutub Utara. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sejarah iklim Bumi dipengaruhi oleh kombinasi perubahan atmosfer dan dinamika geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Para ilmuwan berharap hasil riset ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai pembentukan lapisan es serta dampaknya terhadap perubahan iklim di masa depan.

Related Post

Studi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTUStudi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTU

Polusi mikroplastik di udara ternyata tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature Climate Change. Peneliti menemukan