Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah memunculkan fenomena petir vulkanik. Fenomena tersebut terlihat sebagai kilatan cahaya di sekitar kolom erupsi. Aktivitas Anak Krakatau masih dipantau intensif setelah erupsi menerus berlangsung selama sekitar 25 jam.
Petir vulkanik bukanlah petir biasa yang terbentuk akibat kondisi cuaca. Fenomena tersebut muncul karena proses pelepasan muatan listrik selama erupsi gunung api. Material seperti abu, debu, gas panas, dan pecahan batuan saling bertumbukan dengan intensitas tinggi. Tumbukan tersebut kemudian menghasilkan listrik statis di sekitar kolom erupsi.
Muatan listrik yang terbentuk dapat mengalami pemisahan antara muatan positif dan negatif. Ketika perbedaan muatan semakin besar, terjadi pelepasan energi dalam bentuk kilatan listrik. Karena prosesnya berlangsung di sekitar awan abu vulkanik, kilatan tersebut disebut petir vulkanik. Fenomena serupa juga dapat muncul ketika erupsi menghasilkan material dalam jumlah besar.
Pada perkembangan terbaru, Badan Geologi mencatat Anak Krakatau masih mengalami erupsi Strombolian. Selama 6 hingga 7 September, tercatat tiga kali gempa erupsi dan sejumlah aktivitas kegempaan lainnya. Episode erupsi menerus yang dimulai 4 September telah berakhir pada 6 September. Namun, peluang terjadinya letusan berikutnya masih dinilai tinggi.
Status Gunung Anak Krakatau saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi melarang masyarakat memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat terdampak abu juga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker. Pemerintah terus memantau perkembangan erupsi untuk mengantisipasi perubahan aktivitas vulkanik.
