PORTAL RESMI – Sains Gajah Bisa Tutup Saluran Telinga untuk “Dengar” Getaran Bumi

Gajah Bisa Tutup Saluran Telinga untuk “Dengar” Getaran Bumi

Penelitian terbaru mengungkap kemampuan unik gajah dalam mendeteksi getaran tanah untuk berkomunikasi jarak jauh. Para ilmuwan menemukan gajah dapat menutup saluran telinga secara sukarela guna meningkatkan kemampuan mendengar melalui hantaran tulang. Mekanisme tersebut membantu hewan terbesar di darat itu menangkap sinyal getaran yang merambat melalui tanah. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Audiology and Otology.

Peneliti menjelaskan gajah memiliki tulang telinga tengah yang sembilan kali lebih berat dibandingkan manusia. Selain itu, gendang telinga gajah berukuran sekitar tujuh kali lebih besar. Struktur anatomi tersebut membuat gajah sangat peka terhadap suara berfrekuensi rendah atau infrasonik. Suara itu kemudian diteruskan ke koklea melalui hantaran tulang.

Kemampuan menutup saluran telinga diduga meningkatkan sensitivitas terhadap getaran tanah hingga 30 kali lipat pada frekuensi rendah. Para peneliti mengibaratkan mekanisme itu seperti manusia menggunakan penyumbat telinga. Bedanya, gajah memanfaatkannya untuk memperkuat sinyal yang merambat melalui tulang, bukan melalui udara. Getaran tersebut berasal dari langkah kaki maupun suara infrasonik gajah lain.

Kemampuan itu memungkinkan gajah saling berkomunikasi hingga beberapa kilometer meski tidak saling melihat. Sistem tersebut juga membantu mereka mendeteksi ancaman, menemukan pasangan, dan menjaga koordinasi kawanan. Peneliti menilai pemahaman mengenai komunikasi seismik gajah dapat mendukung upaya konservasi satwa liar. Hasil riset ini juga membuka peluang pengembangan teknologi pemantauan gajah di habitat alaminya.

Related Post

Studi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTUStudi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTU

Polusi mikroplastik di udara ternyata tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature Climate Change. Peneliti menemukan