El Nino menjadi salah satu tantangan besar bagi ketahanan pangan Indonesia karena dapat mengurangi curah hujan. Fenomena tersebut meningkatkan risiko kekeringan pada sejumlah wilayah pertanian ketika berlangsung cukup kuat. Dampaknya dapat memengaruhi jadwal tanam, ketersediaan air, hingga produktivitas tanaman pangan. Beras menjadi komoditas penting karena masih menjadi makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.
Pengalaman El Nino 2023 memberikan gambaran mengenai besarnya risiko terhadap produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras 2023 mencapai sekitar 31,10 juta ton. Jumlah tersebut turun 439,24 ribu ton atau 1,39 persen dibandingkan produksi 2022. Luas panen padi juga turun menjadi sekitar 10,21 juta hektare pada periode tersebut.
Bank Dunia juga mencatat El Nino ikut menekan produksi beras Indonesia pada musim 2023-2024. Kondisi kering menyebabkan keterlambatan penanaman dan panen sehingga memperketat pasokan domestik. Pemerintah kemudian mengandalkan impor untuk membantu memenuhi kebutuhan dan menjaga ketersediaan beras. Kondisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara perubahan cuaca dan stabilitas pangan nasional.
Ancaman El Nino membuat pengelolaan air menjadi semakin penting bagi sektor pertanian. Pemerintah dapat memperkuat irigasi, pompanisasi, penyimpanan air, serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan. Informasi prakiraan musim juga membantu petani menentukan waktu tanam berdasarkan kondisi cuaca. Diversifikasi pangan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu komoditas utama.
Ketahanan pangan akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi ketika kondisi cuaca normal. Kemampuan menghadapi kekeringan dan gangguan iklim juga menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan. Pengalaman El Nino menunjukkan sektor pertanian membutuhkan adaptasi yang semakin kuat terhadap perubahan iklim. Strategi tersebut penting untuk menjaga produksi, harga pangan, dan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
