Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan ekosistem gambut memiliki fungsi penting selain menyimpan cadangan karbon. Gambut juga berperan menjaga keseimbangan siklus air dan memengaruhi pola hujan di suatu wilayah. Penjelasan tersebut disampaikan BRIN dalam diskusi mengenai pentingnya konservasi lahan gambut di Indonesia. Menurut BRIN, fungsi hidrologis gambut sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan perannya sebagai penyerap karbon.
Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN menjelaskan gambut mampu menyerap serta menyimpan air dalam jumlah besar. Saat musim hujan, lahan gambut menahan limpasan air sehingga membantu mengurangi risiko banjir. Pada musim kemarau, air yang tersimpan dilepaskan secara bertahap ke lingkungan sekitar. Proses tersebut menjaga kelembapan tanah dan mendukung ketersediaan air bagi ekosistem. Kondisi itu turut memengaruhi pembentukan awan serta pola curah hujan di kawasan sekitarnya.
BRIN mengingatkan kerusakan lahan gambut dapat memicu berbagai dampak lingkungan yang serius. Pengeringan dan pembukaan gambut meningkatkan risiko kebakaran hutan serta melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Kerusakan tersebut juga mengganggu fungsi hidrologis yang menjaga keseimbangan siklus air. Akibatnya, wilayah sekitar berpotensi mengalami kekeringan maupun banjir lebih sering. Karena itu, perlindungan gambut menjadi bagian penting dalam mitigasi perubahan iklim.
BRIN mendorong pengelolaan gambut dilakukan secara berkelanjutan melalui upaya konservasi dan restorasi. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga fungsi ekologis sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi pemerintah, peneliti, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk melindungi ekosistem gambut. BRIN berharap kesadaran terhadap pentingnya gambut terus meningkat di berbagai daerah. Upaya itu dinilai penting untuk menjaga ketahanan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim pada masa mendatang.
