Perkembangan kecerdasan buatan atau AI mendorong pembangunan pusat data berkapasitas besar di berbagai negara. Infrastruktur tersebut membutuhkan listrik dan sistem pendinginan agar server dapat bekerja secara optimal. Sejumlah sistem pendinginan menggunakan air sehingga ekspansi pusat data berpotensi meningkatkan kebutuhan sumber daya tersebut. Dampaknya menjadi perhatian khusus pada wilayah yang sudah mengalami tekanan air.
OECD pada 2026 menyoroti kemampuan sumber air sebagai salah satu faktor pembatas pembangunan pusat data AI. Perusahaan penyedia air telah menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak pusat data terhadap pasokan lokal. Sebuah klaster pusat data di Iowa pernah dilaporkan menggunakan enam persen pasokan air distrik dalam sebulan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan periode pelatihan model GPT-4.
Tekanan tidak hanya berasal dari penggunaan air secara langsung untuk mendinginkan perangkat. Kebutuhan listrik pusat data juga dapat menghasilkan jejak air melalui proses pembangkitan energi. IEA mencatat pusat data mengonsumsi sekitar 415 terawatt-jam listrik secara global pada 2024. Jumlah tersebut setara sekitar 1,5 persen dari konsumsi listrik dunia.
Konsumsi listrik pusat data diproyeksikan mencapai sekitar 945 terawatt-jam pada 2030. AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kebutuhan listrik tersebut. Pada 2025, konsumsi listrik pusat data bahkan meningkat 17 persen secara global. Pusat data khusus AI mencatat pertumbuhan kebutuhan listrik yang lebih cepat.
Namun, perkembangan teknologi juga menawarkan peluang mengurangi tekanan terhadap sumber air. Desain pendinginan sirkuit tertutup dapat mengurangi kebutuhan menggunakan air tawar secara terus-menerus. Pemilihan lokasi dan sumber listrik juga menentukan besarnya dampak lingkungan pusat data. Karena itu, perkembangan AI membutuhkan efisiensi energi dan pengelolaan air agar manfaat teknologi tidak memperburuk tekanan sumber daya.
