Untuk pertama kalinya, ilmuwan berhasil mendokumentasikan cumi bobtail Arktik (Rossia moelleri) hidup di habitat alaminya sambil membawa kumpulan telur di perairan Greenland. Penemuan itu terjadi di Taman Nasional Greenland Timur Laut, kawasan yang dikenal sebagai salah satu wilayah laut Arktik paling sedikit dipelajari. Temuan tersebut menjadi bukti langsung bahwa spesies ini berkembang biak di lingkungan bersuhu di bawah titik beku. Penelitian itu dinilai sebagai terobosan penting bagi ilmu kelautan dan ekologi kutub.
Tim peneliti menemukan cumi tersebut menggunakan kendaraan bawah laut tanpa awak atau ROV. Hewan itu terlihat pada kedalaman sekitar 50 meter di perairan bersuhu minus 1,6 derajat Celsius. Para ilmuwan juga menemukan tiga kelompok telur yang menempel pada bebatuan di dekat induknya. Penemuan ini menjadi pengamatan pertama spesies tersebut secara langsung di habitat alaminya.
Sebelumnya, keberadaan Rossia moelleri lebih banyak diketahui melalui spesimen yang tertangkap jaring penelitian. Ilmuwan belum pernah menyaksikan perilaku alaminya di laut. Kehadiran induk bersama telur memberikan petunjuk penting mengenai cara reproduksi dan pemilihan habitat spesies tersebut. Informasi ini sangat berharga karena data mengenai kehidupan cumi di wilayah Arktik masih sangat terbatas.
Penelitian juga menunjukkan bahwa cumi bobtail Arktik mampu berkembang biak dalam kondisi yang sangat ekstrem. Lingkungan bersuhu di bawah nol derajat selama ini dianggap menantang bagi banyak hewan laut. Namun, spesies ini ternyata mampu bertahan sekaligus melindungi telurnya hingga masa penetasan. Temuan tersebut membantu ilmuwan memahami kemampuan adaptasi hewan laut terhadap lingkungan kutub yang terus berubah akibat perubahan iklim.
Para peneliti berharap penemuan ini menjadi awal dari penelitian lanjutan mengenai kehidupan laut di Greenland. Kawasan tersebut masih menyimpan banyak spesies yang belum terdokumentasi secara menyeluruh. Penggunaan ROV berukuran kecil dinilai efektif untuk menjelajahi wilayah terpencil tanpa mengganggu habitat alami. Dengan semakin banyak data, ilmuwan dapat memahami kondisi ekosistem Arktik serta dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
