Para ilmuwan menemukan jejak aktivitas kumbang pemakan bangkai pada tulang dinosaurus titanosaurus yang hidup sekitar 70 juta tahun lalu. Penemuan tersebut berasal dari situs fosil Lo Hueco di Cuenca, Spanyol. Lubang-lubang kecil pada tulang dan pelindung tubuh dinosaurus diyakini dibuat oleh serangga pemakan bangkai setelah hewan itu mati. Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai proses pembusukan dan fosilisasi pada akhir Zaman Kapur.
Penelitian menunjukkan bangkai titanosaurus tidak langsung tertimbun sedimen seperti dugaan sebelumnya. Sebaliknya, bangkai tersebut tetap berada di permukaan dalam waktu cukup lama. Kondisi itu memungkinkan kumbang pemakan bangkai dan serangga pengurai lainnya menggali tulang untuk mencari makanan atau tempat berkembang biak. Bekas aktivitas tersebut masih terlihat jelas pada fosil yang ditemukan para peneliti.
Tim peneliti membandingkan pola lubang pada fosil dengan bekas gigitan kumbang dermestid modern. Hasilnya menunjukkan kemiripan yang sangat tinggi. Analisis ini membantu ilmuwan mengidentifikasi jenis serangga yang kemungkinan hidup berdampingan dengan dinosaurus pada masa itu. Penemuan tersebut juga menjadi bukti bahwa interaksi antara serangga dan bangkai hewan besar telah berlangsung sejak puluhan juta tahun silam.
Para peneliti menilai temuan ini penting untuk merekonstruksi ekosistem purba secara lebih akurat. Jejak bioerosi pada tulang dapat mengungkap lama bangkai terpapar sebelum terkubur serta kondisi lingkungan saat itu. Informasi tersebut membantu paleontolog memahami proses pembentukan fosil dan hubungan antara dinosaurus dengan organisme pengurai pada akhir periode Kapur.
