Istilah performative male menjadi perbincangan hangat di media sosial sepanjang 2025 hingga 2026. Tren ini banyak muncul di TikTok, X, dan Instagram. Istilah tersebut menggambarkan pria yang menampilkan citra sensitif, artistik, dan progresif. Namun, semua itu dinilai dilakukan demi menarik perhatian perempuan, bukan karena keyakinan pribadi. Fenomena tersebut banyak dibahas sebagai satire terhadap budaya kencan digital.
Ciri performative male biasanya mudah dikenali melalui gaya hidup dan penampilan. Mereka kerap membawa tote bag, meminum matcha, mendengarkan musisi indie perempuan, serta membaca buku bertema feminisme. Beberapa juga mengoleksi boneka Labubu atau memakai pakaian bergaya vintage. Aktivitas tersebut sebenarnya tidak bermasalah. Kritik muncul ketika semua itu dianggap hanya sebagai pencitraan untuk mendapatkan validasi.
Meski begitu, tidak semua orang sepakat dengan penilaian tersebut. Sejumlah akademisi menilai tren ini justru memperluas cara pandang terhadap maskulinitas modern. Mereka berpendapat laki-laki tidak seharusnya dibatasi oleh stereotip tradisional. Ada pula yang menilai tuduhan performative sering kali berlebihan. Seseorang bisa saja benar-benar menyukai hobi atau gaya hidup tersebut tanpa motif tersembunyi.
Pada akhirnya, performative male lebih merupakan fenomena budaya internet dibanding istilah ilmiah. Tren itu lahir dari perpaduan humor, kritik sosial, dan dinamika hubungan di era media sosial. Banyak konten dibuat secara satir, termasuk kompetisi berpakaian ala performative male yang viral di berbagai negara. Terlepas dari pro dan kontra, fenomena tersebut memicu diskusi mengenai keaslian identitas, ekspresi maskulinitas, dan pengaruh media sosial terhadap cara seseorang membangun citra dirinya.
