Kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti dan terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau AI mulai menjadi perhatian para peneliti. Meski memudahkan pekerjaan sehari-hari, penggunaan teknologi secara berlebihan dapat membuat otak bekerja lebih pasif. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan tugas berpikir kepada alat bantu digital. Penelitian terbaru juga memperkenalkan istilah cognitive debt atau utang kognitif, yakni penurunan kemampuan berpikir yang baru terasa setelah seseorang terlalu sering mengandalkan AI.
Dampaknya tidak berarti otak benar-benar “membusuk”, tetapi kemampuan berpikir kritis dapat melemah jika jarang dilatih. Seseorang menjadi terbiasa menerima jawaban instan tanpa menganalisis atau memverifikasi informasi. Kebiasaan scrolling singkat juga membuat perhatian lebih mudah terpecah. Akibatnya, kemampuan fokus, mengingat informasi, dan menyelesaikan masalah secara mandiri dapat menurun. Para ahli menilai kondisi ini lebih dipengaruhi pola penggunaan teknologi daripada teknologinya sendiri.
AI sebenarnya tetap memberikan banyak manfaat jika digunakan secara tepat. Teknologi ini dapat membantu mencari referensi, merangkum informasi, atau mempermudah pekerjaan rutin. Namun, peneliti mengingatkan AI sebaiknya menjadi alat pendukung, bukan pengganti proses berpikir. Pengguna tetap perlu membaca sumber asli, mengevaluasi jawaban, dan menyusun kesimpulan sendiri. Dengan cara tersebut, AI justru dapat meningkatkan produktivitas tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis.
Para pakar juga menyarankan membatasi waktu scrolling setiap hari dan menyediakan waktu untuk membaca buku, berdiskusi, atau menyelesaikan persoalan tanpa bantuan AI. Aktivitas tersebut membantu melatih konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan analitis. Teknologi bukan musuh bagi otak manusia. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menggunakannya secara seimbang agar kemudahan yang ditawarkan tidak membuat kemampuan berpikir perlahan menurun.
