Generasi Z semakin mengutamakan camilan praktis dalam kebiasaan makan sehari-hari. Sebuah survei menunjukkan 71 persen responden Gen Z lebih sering memilih camilan siap santap dibanding makanan tradisional. Pilihan tersebut dipengaruhi gaya hidup yang serba cepat. Kemudahan memperoleh produk juga menjadi alasan utama. Konsumsi camilan kini tidak lagi sekadar mengganjal lapar.
Banyak anggota Gen Z menghabiskan waktu di sekolah, kampus, atau tempat kerja. Kondisi itu membuat makanan praktis dianggap lebih efisien. Produk seperti keripik, biskuit, protein bar, dan makanan ringan kemasan menjadi pilihan populer. Selain mudah dibawa, camilan tersebut tersedia hampir di semua minimarket. Promosi melalui media sosial juga memperkuat daya tarik produk tersebut.
Di sisi lain, makanan tradisional memerlukan waktu lebih lama untuk disiapkan. Sebagian menu juga lebih sulit ditemukan di kawasan perkotaan. Meski begitu, pakar gizi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pola makan. Camilan sebaiknya tidak menggantikan makanan utama. Konsumen juga dianjurkan memperhatikan kandungan gula, garam, dan lemak sebelum membeli produk kemasan.
Pelaku industri makanan melihat perubahan ini sebagai peluang besar. Banyak produsen mulai menghadirkan camilan dengan bahan lokal dan nilai gizi lebih baik. Inovasi rasa, kemasan menarik, serta pemasaran digital menjadi strategi utama menyasar Gen Z. Meski camilan praktis semakin digemari, makanan tradisional tetap memiliki tempat penting dalam budaya Indonesia. Tantangan ke depan adalah menghadirkan kuliner tradisional dengan konsep yang lebih praktis tanpa menghilangkan cita rasa dan nilai budayanya.
