PORTAL RESMI – Sains Ledakan Bom Hiroshima Ciptakan Paduan Logam Baru yang Belum Pernah Ada

Ledakan Bom Hiroshima Ciptakan Paduan Logam Baru yang Belum Pernah Ada

Ledakan bom atom Hiroshima pada 6 Agustus 1945 ternyata menghasilkan material yang baru teridentifikasi puluhan tahun kemudian. Peneliti menemukan paduan logam multikomponen dalam partikel mikroskopis sisa ledakan. Material tersebut memiliki struktur yang sebelumnya belum dilaporkan. Temuan berasal dari analisis partikel fallout yang dikenal sebagai “hiroshimaites” di sekitar Teluk Hiroshima, Jepang.

Bom atom meledak di atas Hiroshima dan menghasilkan kondisi ekstrem dalam waktu sangat singkat. Material bangunan, tanah, logam, dan berbagai benda di kota ikut terkena panas luar biasa. Penelitian sebelumnya menemukan partikel Hiroshima terbentuk pada kondisi yang melampaui 1.800 derajat Celsius. Material yang mencair atau menguap kemudian mendingin dan membentuk partikel kecil dengan komposisi beragam.

Paduan yang ditemukan terutama mengandung besi, kromium, nikel, mangan, molibdenum, silikon, dan aluminium. Unsur tersebut tersusun dalam struktur kristal kubik yang homogen. Kondisi pembentukannya berbeda dari proses metalurgi biasa yang berlangsung secara terkendali. Ledakan menciptakan pemanasan ekstrem, pencampuran berbagai material, kemudian pendinginan cepat dalam awan ledakan.

Hiroshimaites pertama kali dijelaskan secara ilmiah melalui penelitian yang diterbitkan pada 2019. Partikel tersebut ditemukan dalam pasir pantai di Semenanjung Motoujina, sekitar Teluk Hiroshima. Analisis menemukan kaca, partikel lelehan, serta material kaya aluminium, silikon, kalsium, dan besi. Penelitian berikutnya menunjukkan kaca Hiroshima merupakan kondensat yang terbentuk dalam bola api nuklir.

Temuan terbaru memperluas pemahaman ilmuwan mengenai material yang dapat terbentuk dalam kondisi ekstrem. Struktur paduan tersebut juga membantu penelitian mengenai susunan atom pada material kompleks. Temuan ini sekaligus menunjukkan dampak fisik ledakan Hiroshima masih menyimpan informasi ilmiah setelah delapan dekade. Peneliti dapat memanfaatkannya untuk memahami proses material akibat suhu, tekanan, dan pendinginan ekstrem.

Related Post