Tim ilmuwan berhasil memperkirakan kapan kehidupan di Bumi tidak lagi dapat bertahan melalui pemodelan iklim tiga dimensi terbaru. Penelitian itu dipimpin Jacob Haqq-Misra dan Eric Wolf, lalu dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Atmospheres pada Mei 2026. Hasil riset menunjukkan biosfer Bumi diperkirakan masih mampu mendukung kehidupan selama sekitar 1,8 miliar tahun. Setelah periode tersebut, peningkatan kecerahan Matahari akan membuat kondisi planet semakin tidak layak dihuni.
Penelitian menggunakan simulasi yang memperhitungkan kenaikan radiasi Matahari dan penurunan karbon dioksida di atmosfer. Seiring bertambahnya usia Matahari, intensitas cahayanya akan terus meningkat secara alami. Kondisi itu mempercepat pelapukan batuan yang menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Berkurangnya karbon dioksida akan menghambat proses fotosintesis hingga tumbuhan akhirnya tidak mampu bertahan hidup. Hilangnya tumbuhan kemudian memicu runtuhnya rantai makanan di seluruh Bumi.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa berakhirnya kehidupan terjadi jauh sebelum Matahari berubah menjadi raksasa merah. NASA memperkirakan fase raksasa merah baru dimulai sekitar lima miliar tahun mendatang. Namun, kehidupan diperkirakan lenyap lebih awal akibat meningkatnya suhu permukaan dan hilangnya air dalam jumlah besar. Pada akhirnya, lautan akan menguap sehingga planet ini tidak lagi mampu menopang organisme kompleks. Meski demikian, mikroorganisme sederhana mungkin masih bertahan lebih lama di lingkungan ekstrem.
Penelitian tersebut sekaligus memperbarui prediksi sebelumnya yang memperkirakan usia layak huni Bumi lebih singkat. Model iklim tiga dimensi dinilai memberikan hasil lebih akurat dibanding simulasi satu dimensi yang digunakan sebelumnya. Temuan ini juga membantu ilmuwan memahami evolusi planet layak huni di luar Tata Surya. Selain itu, hasil riset dapat menjadi acuan dalam pencarian planet yang berpotensi mendukung kehidupan di masa depan.
