PORTAL RESMI – Trend FOMO dan Paylater Bikin Keuangan Tak Sehat, Ini Cara Mengatasinya

FOMO dan Paylater Bikin Keuangan Tak Sehat, Ini Cara Mengatasinya

Fenomena fear of missing out atau FOMO semakin memengaruhi kebiasaan belanja masyarakat, terutama generasi muda. Keinginan mengikuti tren sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kemudahan layanan buy now, pay later atau paylater. Berbagai penelitian menunjukkan kombinasi FOMO dan paylater dapat meningkatkan perilaku konsumtif serta memperburuk kesehatan finansial jika tidak dikelola dengan bijak.

Paylater menawarkan proses transaksi yang cepat tanpa harus membayar penuh di awal. Kemudahan itu membuat banyak orang terdorong melakukan pembelian impulsif ketika melihat diskon atau flash sale. Studi menunjukkan individu dengan tingkat FOMO tinggi cenderung lebih sering menggunakan layanan pembayaran tunda. Akibatnya, tagihan dapat menumpuk jika pengeluaran tidak disesuaikan dengan kemampuan membayar. Kondisi tersebut berisiko mengganggu arus kas hingga memicu stres akibat masalah keuangan.

Para ahli menyarankan masyarakat membuat anggaran bulanan sebelum memutuskan membeli suatu produk. Setiap pembelian sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren. Membatasi waktu menggunakan media sosial juga dapat membantu mengurangi dorongan FOMO. Selain itu, paylater sebaiknya dimanfaatkan hanya untuk kebutuhan mendesak dengan kemampuan pelunasan yang jelas. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

Otoritas Jasa Keuangan mengingatkan masyarakat agar memahami seluruh biaya dan risiko sebelum menggunakan layanan paylater. Pengguna juga perlu memperhatikan bunga, denda keterlambatan, dan kemampuan membayar cicilan tepat waktu. Disiplin mengelola pengeluaran serta menyisihkan dana darurat menjadi kunci menjaga stabilitas finansial. Dengan kebiasaan tersebut, masyarakat tetap dapat memanfaatkan teknologi pembayaran digital tanpa terjebak utang konsumtif yang merugikan di masa depan.

Related Post