Dua mumi alami dari Chili menyimpan bukti penting mengenai penyebaran cacar di Benua Amerika sekitar lima abad lalu. Peneliti menemukan DNA virus variola, penyebab cacar, pada jasad seorang perempuan dan laki-laki muda. Keduanya ditemukan di kawasan Camarones, Chili utara, dan diperkirakan meninggal antara 1492 hingga 1631. Temuan tersebut menjadi bukti molekuler langsung pertama mengenai cacar pada masa awal kolonisasi Eropa di Amerika.
Penelitian awalnya menganalisis sampel tulang dari 13 mumi untuk mempelajari sejarah populasi manusia. Namun, ilmuwan justru menemukan jejak genetik virus variola pada dua individu. Perempuan tersebut diperkirakan berusia 30 hingga 35 tahun ketika meninggal. Sementara itu, mumi laki-laki diperkirakan berusia sekitar 18 hingga 20 tahun. Keduanya dimakamkan menggunakan bundel bergaya Inca yang menjadi tradisi masyarakat setempat.
Analisis genom menunjukkan virus tersebut berasal dari garis keturunan cacar yang kini telah punah. Posisinya secara evolusioner berada di antara virus cacar Eropa abad pertengahan dan varian yang muncul kemudian. Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa cacar dibawa ke Amerika setelah kedatangan bangsa Eropa. Penyakit ini kemudian memberikan dampak sangat besar terhadap masyarakat adat yang sebelumnya belum memiliki kekebalan.
Peneliti juga menemukan kedua genom virus memiliki kemiripan sangat tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan kedua individu kemungkinan terinfeksi dalam wabah yang sama atau dalam periode berdekatan. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science pada 30 Juli 2026.
Temuan tersebut membantu ilmuwan memahami perjalanan evolusi cacar setelah memasuki Benua Amerika. Namun, DNA kuno yang ditemukan bukan berarti virus hidup kembali dari mumi. Organisasi Kesehatan Dunia menjelaskan DNA virus dari sampel kuno ditemukan sebagai fragmen pendek dan tidak bersifat menular.
