Colosseum menjadi pusat hiburan masyarakat Romawi sejak diresmikan pada 80 Masehi. Pertunjukan berlangsung pada siang hari dan dapat menghadapkan penonton dengan panas matahari Roma. Bangunan tersebut mampu menampung sekitar 45.000 penonton duduk dan 5.000 penonton berdiri. Romawi kemudian menggunakan teknologi khusus untuk membuat pengalaman menonton lebih nyaman.
Salah satu teknologi terpenting adalah velarium, yaitu kanopi besar yang dipasang di atas area tempat duduk. Kanopi tersebut memberikan perlindungan dari terik matahari dan juga membantu menghadapi hujan. Sistem ini menggunakan kain yang ditopang melalui jaringan tiang dan tali. Pengoperasiannya membutuhkan keterampilan khusus karena ukurannya sangat besar.
Pelaut Romawi dipercaya mengoperasikan velarium karena terbiasa menangani layar, tali, dan sistem rigging kapal. Mereka bekerja dari bagian atas Colosseum untuk mengatur kanopi sesuai kebutuhan. Keberadaan barak pelaut armada Misenum dekat Colosseum juga tercatat dalam dokumentasi arkeologi. Para pelaut tersebut memang bertugas menangani velum atau sistem peneduh amphitheater.
Desain Colosseum juga membantu mengatur puluhan ribu orang ketika memasuki atau meninggalkan bangunan. Sebanyak 76 pintu bernomor digunakan oleh berbagai kelompok sosial untuk memasuki amphitheater. Jalur dan tempat duduk ditentukan berdasarkan tingkatan sosial masyarakat Romawi. Sistem tersebut memungkinkan arus penonton berlangsung lebih cepat dan teratur.
Selain menghadapi panas, warga Romawi menikmati makanan ketika menunggu atau menyaksikan pertunjukan. Bukti arkeologi menunjukkan penonton mengonsumsi daging, makanan laut, buah, dan kacang-kacangan. Temuan tersebut memberikan gambaran kehidupan sehari-hari di tengah ramainya pertunjukan Colosseum. Velarium menjadi bukti bahwa bangsa Romawi memperhatikan kenyamanan penonton melalui rekayasa arsitektur yang maju.
