Hujan asteroid besar diduga menghantam Bumi, Bulan, dan Mars sekitar 800 juta tahun lalu. Temuan terbaru menghubungkan peristiwa tersebut dengan pecahnya benda induk keluarga asteroid Eulalia. Asteroid itu berada di sabuk utama dan pecah dekat wilayah yang dipengaruhi resonansi gravitasi Jupiter. Pecahannya kemudian bergerak menuju bagian dalam Tata Surya dan meningkatkan frekuensi tumbukan pada planet berbatu.
Penelitian dipimpin William Bottke dari Southwest Research Institute bersama sejumlah ilmuwan lainnya. Mereka menggunakan model tumbukan dan dinamika untuk menelusuri perjalanan pecahan keluarga Eulalia. Simulasi menunjukkan sekitar tiga perempat pecahan akhirnya memasuki resonansi 3:1 dengan Jupiter. Proses perpindahan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 150 juta tahun setelah asteroid induknya pecah.
Resonansi tersebut menjadi jalur yang membawa banyak pecahan menuju orbit yang melintasi planet. Bulan menyimpan bukti penting karena permukaannya mempertahankan jejak tumbukan lebih baik dibandingkan Bumi. Studi sebelumnya menemukan delapan kawah besar Bulan terbentuk dalam periode serupa sekitar 800 juta tahun lalu. Salah satunya adalah Kawah Copernicus yang memiliki diameter sekitar 93 kilometer.
Penelitian 2020 memperkirakan sekitar 40 hingga 50 kuadriliun kilogram meteoroid menghantam sistem Bumi-Bulan. Jumlah tersebut sekitar 30 hingga 60 kali massa asteroid yang menyebabkan tumbukan Chicxulub. Namun, jejak tumbukan purba di Bumi banyak menghilang akibat erosi dan aktivitas geologi. Karena itu, permukaan Bulan menjadi arsip penting untuk memahami sejarah bombardemen tersebut.
Studi terbaru juga menunjukkan Mars kemungkinan mengalami peningkatan tumbukan pada periode yang sama. Para peneliti menduga bombardemen tersebut mungkin berkaitan dengan aktivitas vulkanik di Mars. Di Bumi, waktunya juga berdekatan dengan perubahan besar pada lingkungan dan biosfer purba. Namun, hubungan sebab-akibat tersebut masih membutuhkan penelitian tambahan untuk memastikan dampaknya terhadap evolusi planet.
