Sekitar empat juta orang di Indonesia diperkirakan mengidap penyakit autoimun. Angka tersebut disampaikan Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia. Perkiraan itu didasarkan pada asumsi sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami penyakit autoimun. Meski jumlahnya besar, sebagian penderita belum menyadari kondisinya karena gejala awal sering kali tidak khas.
Menurut Nyoman, autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel tubuh sendiri sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun menyerang organ yang seharusnya dilindungi. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ, termasuk kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga sendi. Pada kasus tertentu, autoimun dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam jiwa apabila tidak ditangani dengan tepat.
Nyoman menjelaskan perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami autoimun dibandingkan laki-laki. Faktor hormonal, terutama pengaruh estrogen terhadap sistem kekebalan tubuh, menjadi salah satu penyebabnya. Selain faktor genetik, berbagai faktor lingkungan juga berperan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, serta stres berkepanjangan. Ia menilai tekanan psikologis dapat menjadi pemicu munculnya penyakit pada individu yang memiliki kerentanan.
Masyarakat diimbau menjaga pola hidup sehat untuk menurunkan risiko penyakit autoimun. Langkah tersebut meliputi mengelola stres, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan sistem imun. Diagnosis dan penanganan sejak dini dinilai penting untuk mengendalikan perkembangan penyakit serta meningkatkan kualitas hidup penderita.
