Istilah vibecession semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika masyarakat merasa ekonomi sedang memburuk, meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan hasil yang relatif baik. Fenomena ini banyak dibahas di media sosial dan dinilai banyak dirasakan oleh Generasi Z. Perasaan tersebut dipengaruhi kenaikan biaya hidup, sulitnya memiliki rumah, hingga kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan. Akibatnya, banyak anak muda merasa kondisi ekonomi lebih berat dibandingkan data resmi yang dirilis pemerintah.
Istilah vibecession pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Kyla Scanlon pada 2022. Kata tersebut merupakan gabungan dari vibes atau suasana hati dan recession yang berarti resesi. Fenomena ini menggambarkan kesenjangan antara persepsi masyarakat dan kondisi ekonomi berdasarkan data. Misalnya, inflasi mulai menurun dan lapangan kerja tetap tersedia, tetapi banyak orang masih merasa kesulitan secara finansial. Persepsi tersebut diperkuat oleh pengalaman sehari-hari dan informasi yang beredar di media sosial.
Bagi Generasi Z, vibecession dipengaruhi berbagai faktor. Harga kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, dan pengeluaran harian terus meningkat. Di sisi lain, banyak anak muda menghadapi ketidakpastian pekerjaan dan persaingan yang semakin ketat. Kondisi tersebut membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Tidak sedikit yang memilih menabung, mengurangi pengeluaran, atau mencari pekerjaan tambahan.
Para ekonom menilai vibecession merupakan fenomena psikologis yang tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Meski demikian, persepsi masyarakat tetap penting karena dapat memengaruhi pola konsumsi dan keputusan keuangan. Oleh sebab itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu memperhatikan kondisi yang dirasakan masyarakat. Sementara itu, Generasi Z disarankan tetap mengelola keuangan secara bijak dan tidak hanya bergantung pada informasi yang beredar di media sosial.
