China mempercepat penggunaan kecerdasan buatan dan robot untuk meningkatkan keselamatan di tambang batu bara berisiko tinggi. Kebijakan tersebut menargetkan tambang yang rawan bencana atau pernah mengalami kecelakaan besar. Pemerintah mendorong robot menggantikan pekerja pada sejumlah posisi berbahaya. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi tambang menuju operasi yang lebih cerdas dan otomatis.
Beberapa pekerjaan yang diprioritaskan meliputi penggalian terowongan, inspeksi, penyelamatan, penyanggaan atap, dan peledakan. Robot dapat dikirim ke area yang berisiko bagi keselamatan manusia. Teknologi tersebut juga memungkinkan pemantauan kondisi tambang secara lebih konsisten. Penggunaan sistem otomatis diharapkan mengurangi paparan pekerja terhadap lingkungan ekstrem.
China sebelumnya telah mengembangkan konsep tambang pintar dengan memanfaatkan kendaraan dan mesin otonom. Perusahaan teknologi pertambangan China juga mulai mengembangkan mesin untuk pengeboran dan penanganan bahan peledak. Perkembangan tersebut menunjukkan otomatisasi mulai bergerak dari proyek percontohan menuju penerapan lebih luas.
Robot juga memiliki peran dalam operasi penyelamatan setelah kecelakaan tambang. Pada Mei 2026, sebuah robot digunakan dalam upaya penyelamatan di tambang China bagian utara. Robot tersebut dirancang menghadapi terowongan yang tergenang serta lingkungan beracun. Kondisi tersebut sulit dan berbahaya jika langsung dimasuki tim penyelamat manusia.
Meski demikian, penggunaan robot tidak berarti seluruh pekerjaan tambang langsung digantikan mesin. Teknologi masih menghadapi tantangan berupa kondisi lingkungan yang kompleks dan kebutuhan pengawasan manusia. China kini berupaya meningkatkan kemampuan otomatisasi untuk menciptakan tambang yang lebih aman. Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat posisi teknologi robotik dalam industri pertambangan masa depan.
