PORTAL RESMI – Sains Bukan di Pantai, Hewan Pertama Bumi Lahir di Laut Dalam?

Bukan di Pantai, Hewan Pertama Bumi Lahir di Laut Dalam?

Asal-usul hewan pertama di Bumi masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Namun, sejumlah penelitian terbaru semakin menguatkan dugaan bahwa kehidupan hewan paling awal berkembang di lingkungan laut, bahkan kemungkinan di perairan yang dalam. Temuan ini bertentangan dengan anggapan bahwa evolusi hewan bermula di wilayah pesisir atau perairan dangkal. Para peneliti menilai kondisi laut purba menyediakan lingkungan yang lebih stabil bagi organisme multiseluler untuk berevolusi.

Salah satu kandidat terkuat sebagai hewan pertama di Bumi adalah spons laut. Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bukti berupa fosil kimia atau biomarker dalam batuan berusia lebih dari 540 juta tahun. Molekul tersebut diyakini berasal dari nenek moyang spons laut modern. Temuan ini menunjukkan hewan sederhana itu telah hidup jauh sebelum ledakan Kambrium yang melahirkan banyak bentuk kehidupan kompleks.

Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat. Sebagian peneliti berpendapat ubur-ubur sisir atau comb jelly kemungkinan muncul lebih dahulu berdasarkan analisis genetik. Perbedaan hasil penelitian terjadi karena fosil hewan bertubuh lunak sangat sulit ditemukan. Akibatnya, ilmuwan menggabungkan bukti fosil, genetika, dan jejak molekul untuk merekonstruksi sejarah evolusi kehidupan di Bumi.

Hingga kini, belum ada bukti yang memastikan hewan pertama lahir di pantai. Sebaliknya, banyak penelitian menunjukkan lautan, termasuk kawasan laut dalam, menjadi tempat paling mungkin bagi kemunculan hewan multiseluler pertama. Penelitian mengenai asal-usul kehidupan masih terus berkembang seiring ditemukannya fosil dan teknologi analisis baru. Temuan-temuan tersebut diharapkan dapat mengungkap lebih jelas bagaimana kehidupan hewan pertama kali muncul di planet Bumi.

Related Post

Studi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTUStudi Terbaru: Polusi Mikroplastik di Udara Genjot Panas Planet, Setara 200 PLTU

Polusi mikroplastik di udara ternyata tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature Climate Change. Peneliti menemukan