Perkembangan media sosial membuat tren gaya hidup muncul dan berganti semakin cepat. Fesyen, kuliner, teknologi, hingga tempat nongkrong dapat populer hanya dalam waktu singkat. Pengguna kemudian terus menerima rekomendasi mengenai sesuatu yang dianggap menarik atau sedang viral. Kondisi tersebut dapat memunculkan dorongan mengikuti tren meski barang sebelumnya masih berfungsi dengan baik.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan fenomena hedonic adaptation dalam psikologi. Konsep tersebut menggambarkan kecenderungan manusia beradaptasi terhadap perubahan positif maupun negatif dalam kehidupannya. Kegembiraan setelah mendapatkan barang baru dapat berkurang setelah seseorang mulai terbiasa memilikinya. Akibatnya, sesuatu yang awalnya terasa istimewa perlahan dapat terasa biasa.
Media sosial turut memperbesar kesempatan seseorang membandingkan kehidupan dengan orang lain. Penelitian dalam Journal of Social and Clinical Psychology pernah menghubungkan penggunaan media sosial dengan kesejahteraan psikologis. Eksperimen tersebut melibatkan 143 mahasiswa di University of Pennsylvania. Pembatasan penggunaan Facebook, Instagram, dan Snapchat dikaitkan dengan penurunan kesepian serta depresi selama penelitian.
Perubahan tren yang cepat juga dimanfaatkan industri melalui peluncuran produk dan kampanye pemasaran secara berkala. Konsumen terus diperkenalkan dengan model, warna, rasa, atau pengalaman baru. Namun, mengikuti tren bukan sesuatu yang selalu buruk atau harus dihindari. Masalah dapat muncul ketika keputusan membeli lebih banyak didorong tekanan sosial daripada kebutuhan pribadi.
Menentukan prioritas dapat membantu seseorang menikmati tren tanpa harus mengejar seluruh perubahan yang muncul. Pertimbangkan kebutuhan, kemampuan keuangan, dan manfaat sebelum mengikuti sesuatu yang sedang populer. Kepuasan juga dapat dibangun melalui pengalaman dan hubungan sosial, bukan hanya kepemilikan barang. Dengan begitu, tren tetap dapat dinikmati tanpa menjadi ukuran utama kepuasan terhadap kehidupan.
