Fenomena fear of missing out atau FOMO semakin memengaruhi kebiasaan belanja Generasi Z di era media sosial. FOMO menggambarkan rasa takut tertinggal tren, pengalaman, atau informasi yang sedang populer. Kondisi tersebut sering mendorong seseorang membeli barang tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. Paparan konten di media sosial menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya perilaku tersebut. Tren ini banyak ditemukan pada produk fesyen, gawai, hingga gaya hidup.
Psikolog menjelaskan FOMO muncul karena keinginan untuk merasa diterima dalam lingkungan sosial. Melihat unggahan teman atau kreator konten dapat memicu dorongan mengikuti tren yang sama. Akibatnya, sebagian orang rela mengeluarkan uang demi menjaga citra atau rasa percaya diri. Kebiasaan tersebut berisiko mengganggu kondisi keuangan apabila dilakukan secara berlebihan. Penggunaan layanan pembayaran digital dan paylater juga dapat memperbesar perilaku konsumtif.
Pakar menyarankan Generasi Z lebih bijak membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum berbelanja. Membuat anggaran bulanan dapat membantu mengendalikan pengeluaran agar tetap sesuai kemampuan. Mengurangi waktu menggunakan media sosial juga dinilai mampu menekan dorongan mengikuti tren. Langkah tersebut membantu seseorang lebih fokus pada prioritas keuangan dibanding tekanan lingkungan. Kesadaran terhadap tujuan finansial menjadi kunci menghindari perilaku belanja impulsif.
Meski FOMO sering dikaitkan dengan dampak negatif, pakar menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola. Media sosial tetap memberikan manfaat apabila digunakan secara bijak dan tidak menjadi tolok ukur kebahagiaan. Generasi Z didorong membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini. Dengan pengelolaan yang baik, keinginan mengikuti tren tidak harus berujung pada pemborosan. Sikap tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara gaya hidup dan kondisi keuangan.
