Teleportasi selama ini identik dengan film fiksi ilmiah seperti Star Trek. Namun, konsep tersebut tidak sepenuhnya menjadi khayalan dalam dunia sains modern. Para ilmuwan telah membuktikan keberadaan teleportasi kuantum melalui berbagai eksperimen sejak 1997. Meski begitu, teknologi tersebut tidak memindahkan manusia atau benda secara fisik. Teleportasi kuantum hanya memindahkan informasi mengenai keadaan kuantum suatu partikel. Penelitian ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan komputasi dan komunikasi kuantum.
Teleportasi kuantum memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai keterikatan kuantum atau quantum entanglement. Dua partikel dapat memiliki hubungan sehingga perubahan pada satu partikel berkaitan dengan pasangannya. Proses ini tetap memerlukan komunikasi klasik sehingga tidak melanggar batas kecepatan cahaya. Dengan kata lain, tidak ada materi yang berpindah secara instan seperti dalam film. Yang berpindah hanyalah informasi kuantum yang menggambarkan keadaan partikel tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti berhasil memperluas jangkauan teleportasi kuantum. Eksperimen telah dilakukan melalui serat optik komersial hingga koneksi satelit. Pencapaian tersebut membuka peluang lahirnya internet kuantum yang lebih aman. Teknologi ini diperkirakan akan meningkatkan keamanan komunikasi dan mempercepat perkembangan komputer kuantum. Meski demikian, seluruh keberhasilan tersebut masih terbatas pada partikel atau bit kuantum.
Para ilmuwan menegaskan teleportasi manusia masih berada di ranah fiksi ilmiah. Tubuh manusia terdiri atas triliunan sel dan sekitar 7×10²⁷ atom yang harus dipetakan secara sempurna. Selain tantangan teknis, muncul pula persoalan identitas dan kesadaran jika tubuh direkonstruksi di lokasi lain. Karena itu, teleportasi ala film belum mungkin diwujudkan dengan teknologi saat ini. Namun, penelitian teleportasi kuantum tetap menjadi salah satu bidang paling menjanjikan dalam fisika modern.
